PALI — Di tengah teriknya mentari dan panjangnya musim kemarau, warna-warni bunga justru menghadirkan nuansa berbeda di Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Hamparan bunga tabebuya yang mulai bermekaran seolah menjadi oase di tengah panasnya musim kemarau. Keindahannya bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga membuka harapan baru bagi masyarakat Tempirai untuk mengembangkan potensi wisata berbasis lingkungan dan kebersamaan.
Gagasan tersebut lahir dari kegiatan sosial yang diinisiasi tokoh nasional asal Tempirai, Dr. Subiyanto Pudin, S.Sos., SH., CLA, yang juga merupakan Ketua Umum MPPDT yang dipercaya oleh masyarakat Tempirai. Serta tokoh tokoh asal Tempirai pendiri MPPDT yaitu Letkol H.Alimun Hakim, Drs M.Yusuf Leman, MSi, H.Ruslan Umar, Drs Fauzi Cik Ubit, Soelpian Shahib, Taufik Arahman, Suherman, Alri Susanto dan yang lainnya.
Menurut Subiyanto, mekarnya bunga tabebuya yang dapat dinikmati masyarakat saat ini merupakan buah dari kerja sama berbagai pihak. Bibit yang dibawa dari luar daerah kemudian ditanam secara bersama-sama dengan masyarakat serta organ MPPDT yang ada di Desa Tempirai.
“Bunga yang mekar hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah kebersamaan. Ini bukan hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kerja sama semua pihak. Bibit yang kami bawa dari tanah seberang, kemudian kami tanam bersama masyarakat dan organ MPPDT di Desa Tempirai,” ujar Subiyanto.
Ia menjelaskan, pengembangan kawasan bunga tersebut dilakukan secara bertahap. Tahap pertama mulai menunjukkan hasil setelah bibit tabebuya yang ditanam sejak 2021 kini mulai berbunga.
“Kegiatan ini kami rancang dalam tiga tahap. Yang mulai berbunga tahun ini merupakan tanaman pada tahap pertama yang kami tanam sejak 2021. Nantinya, ketika tahap kedua dan ketiga juga mulai berbunga, kami berharap Tempirai dapat berkembang menjadi salah satu pusat wisata bunga di Kabupaten PALI,” katanya.
Subiyanto menambahkan, jenis bunga yang dikembangkan adalah tabebuya yang dikenal memiliki bunga dengan warna mencolok dan daya tarik visual yang kuat ketika bermekaran.
Baginya, bunga bukan sekadar tanaman penghias lingkungan. Lebih dari itu, bunga menjadi simbol tentang bagaimana sebuah harapan ditanam, dirawat bersama, dan pada waktunya memberikan keindahan yang dapat dinikmati banyak orang.
“Yang kita tanam hari ini bukan hanya bunga, tetapi juga harapan. Semoga ke depan apa yang dilakukan bersama ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan Desa Tempirai,” ungkapnya.
Keberadaan taman bunga tabebuya tersebut mendapat respons positif dari masyarakat Desa Tempirai.
Darnik, salah seorang warga, menyampaikan apresiasinya terhadap gagasan dan kepedulian yang telah dilakukan untuk memperindah lingkungan sekaligus membuka potensi wisata desa.
“Kami sangat berterima kasih. Apa yang dilakukan ini memberikan warna baru bagi Tempirai. Dulu mungkin kita hanya melihat panasnya kemarau, sekarang ada bunga yang membuat suasana menjadi lebih indah. Semoga terus dikembangkan dan bisa menjadi tempat yang membanggakan bagi masyarakat,” ujarnya.
Senada, Teguh menilai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana, jika dilakukan secara bersama-sama dan konsisten, dapat menjadi potensi besar bagi desa.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan. Ini membuktikan bahwa dengan kebersamaan, sesuatu yang awalnya kecil bisa menjadi sesuatu yang indah dan memiliki nilai wisata. Mudah-mudahan tahap berikutnya terus dilanjutkan sehingga Tempirai benar-benar dikenal sebagai kawasan wisata bunga,” katanya.
Kini, di bawah langit yang panas dan tanah yang sedang menghadapi kemarau panjang, bunga-bunga tabebuya di Tempirai justru memberikan pesan yang berbeda: bahwa keindahan bisa tumbuh dari kebersamaan, dan harapan bisa mekar dari sebuah langkah kecil yang dirawat dengan kesabaran.
Jika seluruh tahapan pengembangan dapat terealisasi dan bunga-bunga tersebut semakin bermekaran, bukan tidak mungkin Tempirai kelak memiliki wajah baru sebagai salah satu destinasi wisata bunga yang menjadi kebanggaan Kabupaten PALI. (PA)



