Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Golf Dipertontonkan, Rakyat Hanya Ingin Ruang Hidup yang Sederhana

Sabtu, 23 Mei 2026 | Mei 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-24T04:11:07Z


PALI — Di tengah keadaan ekonomi yang belum benar-benar pulih, masyarakat kecil hari ini sesungguhnya tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup yang layak, harga kebutuhan yang stabil, lapangan pekerjaan yang terbuka, dan ruang kebersamaan yang bisa dinikmati tanpa melihat status sosial.


Namun di saat denyut kehidupan rakyat masih dipenuhi perjuangan, pemandangan tentang olahraga golf yang terus dipromosikan justru memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Bukan karena rakyat membenci olahraga, tetapi karena ada jarak yang terasa begitu jauh antara lapangan hijau para elit dengan realita kehidupan masyarakat kecil.


Golf sejak lama dikenal sebagai olahraga kalangan berada. Tidak semua orang bisa masuk, tidak semua orang mampu bermain. Peralatannya mahal, lingkungannya eksklusif, dan identik dengan simbol kemewahan. Ketika olahraga seperti ini terlalu dipamerkan di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sulit, sebagian masyarakat merasa seperti sedang melihat dunia yang bukan milik mereka.


Lebih membingungkan lagi ketika golf mulai disandingkan dengan isu ketahanan energi. Bagi masyarakat kecil, dua hal itu terasa tidak memiliki hubungan yang nyata. Di saat rakyat berbicara tentang listrik, bahan bakar, harga kebutuhan pokok, dan penghasilan yang semakin berat, narasi tentang golf dan ketahanan energi terdengar seperti percakapan dari ruang yang berbeda.


Masyarakat justru merindukan lapangan golf yang dulu pernah terasa lebih dekat dengan rakyat. Tempat yang terbuka untuk umum, menjadi ruang wisata keluarga saat hari raya, libur panjang, atau akhir pekan. Ada kenangan sederhana di sana. Anak-anak berlari bebas, warga bersantai, dan masyarakat kecil bisa menikmati ruang hijau tanpa rasa canggung.


Kini, sebagian warga merasa tempat-tempat seperti itu perlahan berubah menjadi ruang eksklusif yang hanya nyaman bagi kalangan tertentu.


Di Kabupaten PALI sendiri, pecinta golf tentu ada, namun jumlahnya hanya segelintir. Mayoritas masyarakat lebih akrab dengan olahraga sederhana yang murah dan membumi. Jalan santai, senam pagi, maraton, sepak bola kampung, atau sekadar jogging di lapangan terbuka jauh lebih dekat dengan kehidupan rakyat.


Karena itu, banyak warga berharap perhatian pemerintah maupun perusahaan besar tidak hanya terfokus pada kegiatan yang bernuansa elit. Lapangan Gelora November, misalnya, bisa dijadikan pusat olahraga rakyat secara rutin. Jika dihidupkan setiap minggu atau setiap bulan, bukan hanya masyarakat yang sehat, tetapi UMKM kecil juga akan tumbuh.


Pedagang kaki lima bisa mendapatkan penghasilan. Anak-anak muda punya ruang aktivitas positif. Warga bisa berkumpul tanpa sekat jabatan dan kemewahan.


Mungkin inilah yang sedang dirindukan masyarakat hari ini: kesederhanaan dan kehadiran pemimpin yang lebih membumi.


Sebab rakyat tidak pernah iri pada kemewahan. Mereka hanya berharap para pemegang kekuasaan mampu lebih peka melihat kenyataan. Bahwa di balik gemerlap fasilitas dan acara-acara eksklusif, masih banyak masyarakat yang hanya ingin merasa dekat dengan pemimpinnya sendiri.


Kadang, yang melukai rakyat bukan kemewahan itu sendiri, melainkan ketika kemewahan dipertontonkan di tengah keadaan hidup rakyat yang sedang tidak baik-baik saja.(PA) 

×
Berita Terbaru Update