Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Layanan Amburadul Hotel Srikandi, Resepsionis “Menghilang”: Anggaran Miliaran Dipertanyakan, Isu Nepotisme Mencuat

Selasa, 14 April 2026 | April 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-14T11:21:34Z



PALI — Alih-alih menjadi wajah kebanggaan daerah, Hotel Srikandi yang dikelola Pemkab PALI justru menuai kritik keras. Dibangun dari uang rakyat dengan anggaran besar, hotel yang digadang-gadang sebagai yang termewah di PALI itu kini disorot tajam akibat pelayanan yang dinilai jauh dari standar.


Kritik pedas datang dari Ketua Aliansi Pemuda Peduli PALI (AP3), Abu Rizal. Ia mengaku merasa “ditampar” saat mendapat keluhan langsung dari rekannya luar daerah yang menginap di hotel tersebut.


“Ini bukan sekadar pelayanan kurang ramah. Tamu datang, tidak ada satu pun petugas di meja resepsionis. Seolah-olah hotel ini ditinggal tanpa pengelola,” tegas Rizal.


Ironisnya, kata dia, tamu justru harus “berburu” resepsionis yang entah ke mana. Situasi ini diperparah dengan kondisi ruang depan yang dinilai tidak layak—sebuah ember hitam tergeletak di area yang seharusnya menjadi wajah utama hotel.


“Di rumah saja kita malu kalau ruang tamu berantakan. Ini hotel, tempat orang luar menilai daerah kita. Sangat memalukan,” sindirnya tajam.


Rizal menilai manajemen Hotel Srikandi gagal memahami standar dasar industri perhotelan. Resepsionis, menurutnya, adalah garda terdepan yang wajib siaga 24 jam, bukan justru ‘menghilang’ saat tamu datang.


Sorotan tak berhenti di situ. Ia juga mempertanyakan besarnya anggaran yang telah digelontorkan untuk hotel tersebut. Berdasarkan data yang ia kutip, sekitar Rp2 miliar telah dihabiskan hanya untuk rehabilitasi, belum termasuk suntikan dana lainnya untuk operasional dan peningkatan layanan.


“Uang rakyat miliaran rupiah digelontorkan, tapi yang didapat justru citra buruk. Ini bukan sekadar kelalaian, ini kegagalan manajemen,” tegasnya.


Lebih jauh, Rizal juga menyinggung dugaan faktor kedekatan dalam penunjukan manajemen. Isu bahwa manajer hotel merupakan kerabat dekat kepala daerah turut memicu kecurigaan publik.


“Kalau benar karena faktor kedekatan, wajar kalau pengelolaannya jadi seenaknya. Profesionalisme jadi korban,” ucapnya dengan nada sarkastik.


Ia mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen Hotel Srikandi, termasuk transparansi penggunaan anggaran dan standar pelayanan.


“Ini menyangkut nama baik daerah. Jangan sampai tamu datang dengan harapan, pulang membawa kekecewaan,” pungkasnya. 

Sampai berita ini diterbitkan pihak manajemen hotel srikandi belum terkonfirmasi, media ini juga tetap membuka ruang bagi manajemen untuk memberikan hak jawab. (ISH) 

×
Berita Terbaru Update