PALI -- Momen lebaran selalu dijadikan sarana membangun silaturahmi antar elemen organisasi. Seperti yang dilakukan oleh DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumatera Selatan. Namun ternyata yang datang justru emak-emak yang datang menyerbu kediaman sang ketua Heri Amalindo.
Lebaran kelima, Rabu (25/3) para kader partai berlogo gajah tersebut menggelar halal bihalal di kediaman sang ketua umum Heri Amalindo di kawasan Simpang Raja kelurahan Handayani Mulia, Kabupaten PALI. Ratusan kader dari tingkat ranting (desa) sampai pengurus kecamatan dan Kabupaten memadati kediaman mantan bupati PALI tersebut.
"Momen lebaran kita jadikan ajang konsolidasi. Sebagai partai baru di Kabupaten PALI kita pererat silaturahmi di keluarga besar PSI" ujar Heri Amalindo, peraih gelar doktor dari Unsri tersebut.
Dalam kesempatan itu hadir juga Iskandar Anwar SE, ketua DPD PSI Kabupaten PALI dan Darmadi MN, ketua DPD Gajah Muda Nusantara (GMN) Kab PALI dan seluruh kader partai gajah se Kabupaten PALI .
Namun dari situasi akrab penuh kekeluargaan tersebut, ada pemandangan unik yang tak biasa. Puluhan emak-emak datang menyerbu acara tersebut. Mereka datang bersama suami dan anak-anaknya yanv masih kecik. Bahkan satu sepeda motor dibonceng berlima ditengah terik panas matahari.
"Kami sudah lamo dan betemu Pak Heri, sudah rindu nian. Tadi ado yang posting di facebook kalo pak heri open house makonyo kami datang" Ujar Anis, asal Talang Puyang.
Beda dengan Anis, Iyan asal Lorong Asrama datang memboyong istri dan 4 anaknya. Suami istri pedagang cilok itu mengaku ingin bersalaman dan berfoto dengan Pak Heri.
"Kami kehilangan sosok orang tua. Dulu saat beliau menjabat bupati setiap ada acara beliau selalu menghampiri dan menyalami kami. Padahal kami ini wong cilik, tapi beliau dak pernah bosan menyalami kami dengan tulus" ujar Iyan.
Menurut Iyan, dirinya setiap hari berjualan keliling di setiap acara orgen atau hajatan warga. Nah ketika Pak Heri menghadiri acara tersebut, begitu turun dari mobil selalu menyapa pedagang kecil.
"Makanya kami sangat terkesan. Begitu beliau tidak lagi menjabat kami merasa kehilangan. Momen inilah bisa mengobati rindu kami" tambahnya.
Perilaku khas Heri Amalindo ini bagi sebagian pedagang kecil seperti mereka sangatlah istimewa. Karena tidak semua pejabat punya karakteristik seperti itu. Bahkan dirinya pernah berjualan di acara hajatan di salah satu kabupaten di Sumsel, dirinya bersama pedagang lain malah diusir dan tempat jualannya disuruh digeser.
"Bapak mau datang kalian geser dulu jualannya" ujar Iyan menirukan ucapan anak buah pejabat tersebut.
"Makanya Pak Heri ini sangat spesial. Kami justru diperlakukan istimewa" terangnya.
Sementara itu Yunita yang datang membawa anak-anaknya yang masih kecil juga mengaku bahagia. Momen lebarqn ini bisa mempertemukan anak-anaknya dengan tokoh kebanggaan keluarganya.
"Lihatlah emak-emak dan anak-anaknya semuanya bahagia disini. Sampai ada yang makan sambil lesehan karena bahagia. Seperti rumah sendiri. Seperti Rumah bapak kami dewek. Bapak juga tidak sungkan-sungkan menyapa kami. Pacak nyanyi pacak joget. Hahaa" ujarnya denga penuh kegembiraan.
Pantauan media ini, sampai sore pukul 17.30 WIB menjelang maghrib, masih banyak warga yang datang dari berbagai pelosok. Mereka mengaku tidak diundang tapi mengetahui acara tersebut dari postingan warga di media sosial (ISH)

