Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi Jalan Menuju “Harta Karun” Migas: Guru-Guru Jatuh Bangun Demi Mengajar

Selasa, 05 Mei 2026 | Mei 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-06T06:52:31Z



PALI -- Pagi itu, langit di Dusun Talang Kampai masih menyisakan sisa hujan semalam. Tanah merah berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan dalam. Di atas jalan itulah, langkah pengabdian para guru SDN 43 Talang Ubi dimulai—bukan dengan mulus, melainkan dengan perjuangan yang nyaris membuat mereka menyerah, jika bukan karena panggilan hati.

Satu per satu sepeda motor melaju perlahan. Ban berputar ragu, sesekali tergelincir. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, lima guru perempuan terlihat jatuh bangun di jalan becek itu. Tawa kecil sempat terdengar, seolah mencoba menertawakan keadaan. Namun lumpur yang menempel di seragam mereka menjadi saksi: perjalanan menuju sekolah bukan perkara mudah.

Ironisnya, hanya sekitar seratus meter dari lokasi para guru terjatuh, berdiri sumur minyak dan gas yang disebut-sebut sebagai salah satu penghasil terbesar di wilayah tersebut. Di tengah kekayaan alam yang melimpah, akses jalan justru menjadi cerita panjang tentang keterbatasan.

Bagi para guru itu, kejadian terjatuh bukanlah hal baru. Mereka sudah terbiasa. Jalan rusak, licin, dan berlumpur adalah “menu” harian yang harus dilalui demi sampai ke ruang kelas.

Kepala SDN 43 Talang Ubi, Armansyah, membenarkan bahwa para guru dalam video tersebut adalah tenaga pengajar di sekolahnya. Ia menyebut, kondisi itu bukan lagi sesuatu yang mengejutkan.

“Dari delapan guru di sini, hanya satu yang berasal dari desa ini. Sisanya dari luar, bahkan ada yang dari Kecamatan Abab. Jalan rusak bukan halangan bagi kami. Setiap hari kami lalui,” ujarnya.

Semangat itu bukan tanpa alasan. Di balik medan berat, ada tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak di pelosok. Meski harus berangkat dengan risiko terjatuh, mereka tetap datang, membawa harapan di tengah keterbatasan.

Cerita serupa datang dari Waeb Jamel, seorang sopir angkutan pelajar yang setiap hari mengantar siswa SMP dan SMA. Ia paham betul bagaimana kondisi jalan tersebut.

“Anak-anak tidak berani bawa motor sendiri. Jalannya terlalu berat,” katanya.

Menurut Waeb, jalan becek itu bukan semata karena hujan. Tidak adanya parit di sisi jalan membuat air menggenang dan memperparah kondisi. Selain itu, jalan tersebut sudah lama tidak mendapat pengerasan.

“Sejak saya lahir, jalannya memang seperti ini,” ujarnya.

Ia pun mempertanyakan, ke mana perginya hasil kekayaan alam di daerahnya. Sebab, meski dikenal sebagai penghasil minyak dan gas, masyarakat sekitar justru tidak merasakan dampak signifikan dalam pembangunan infrastruktur.

“Katanya sumur di sini harta karun. Tapi kami tetap jalan di lumpur,” ucapnya lirih.
Kondisi ini juga mendapat sorotan dari pemerhati kebijakan publik setempat, Indra Setia Haris. Ia menilai, wilayah penghasil migas seharusnya menjadi prioritas pembangunan.

Menurutnya, dari dua sumur di kawasan tersebut, potensi pendapatan bisa mencapai miliaran rupiah setiap hari. Dalam setahun, angkanya bahkan menembus triliunan. Namun realitas di lapangan jauh dari kata sejahtera.

“Yang didapat masyarakat hanya jalan becek dan kemiskinan,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih bijak dalam mengelola Dana Bagi Hasil Migas, dengan memprioritaskan pembangunan di desa penghasil. Selain itu, perusahaan migas juga dinilai perlu turut bertanggung jawab terhadap kondisi infrastruktur di sekitar wilayah operasionalnya.

Di sisi lain, pihak perusahaan melalui perwakilannya menyatakan akan menindaklanjuti informasi tersebut.
Namun bagi para guru di SDN 43 Talang Ubi, jawaban itu belum tentu mengubah perjalanan mereka esok pagi. Selama jalan masih berlumpur, mereka akan tetap berangkat—menembus licin, menahan jatuh, dan bangkit lagi.

Sebab bagi mereka, pendidikan tidak boleh ikut terperosok bersama lumpur.(ISH) 
×
Berita Terbaru Update