Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jokowi Sandang Gelar Adat "Baginda Pemuka Bangsa", Penghormatan yang Menyatukan Sejarah, Budaya, dan Pengabdian

Minggu, 28 Juni 2026 | Juni 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-28T10:38:08Z


Bandar Lampung – Di tengah arus zaman yang terus bergerak maju, masih ada nilai-nilai luhur yang tetap dijaga dan diwariskan. Salah satunya adalah penghormatan adat, sebuah tradisi yang tidak sekadar menghadiahkan gelar, melainkan menitipkan amanah, penghargaan, dan doa kepada mereka yang dianggap telah memberikan jejak pengabdian bagi bangsa.


Sabtu (27/6/2026), suasana khidmat menyelimuti Rumah Adat Kedatun Keagungan, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung. Alunan musik tradisional, lantunan doa, dan prosesi adat yang sarat makna menjadi saksi ketika Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, menerima gelar adat kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" dari lima kerajaan adat di Provinsi Lampung.


Bagi masyarakat adat Lampung, gelar bukan sekadar rangkaian kata yang indah didengar. Gelar adalah simbol penghormatan tertinggi yang lahir dari pertimbangan panjang, nilai-nilai budaya, dan penghargaan atas jasa seseorang terhadap masyarakat, daerah, serta bangsa.


Lima kerajaan adat yang bersatu dalam prosesi tersebut menyampaikan bahwa penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Joko Widodo selama memimpin Indonesia. Berbagai pembangunan infrastruktur, perhatian terhadap daerah, hingga upaya menjaga persatuan bangsa dinilai menjadi bagian dari perjalanan yang layak dikenang dalam sejarah.


Di hadapan para tokoh adat, pejabat daerah, dan ratusan masyarakat yang hadir, prosesi penobatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Balutan busana adat Lampung beserta atribut kebesaran dikenakan kepada Jokowi sebagai simbol diterimanya beliau ke dalam keluarga besar adat Lampung.


Mewakili para raja adat, Ketua Dewan Adat menyampaikan bahwa gelar "Baginda Pemuka Bangsa" bukan hanya penghargaan atas kepemimpinan, tetapi juga harapan agar nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya Nusantara terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Dalam sambutannya, Joko Widodo menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehormatan yang diberikan. Menurutnya, penghargaan tersebut bukan semata untuk dirinya pribadi, melainkan bentuk penghormatan terhadap semangat kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan bangsa Indonesia.


Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus menjaga silaturahmi dengan masyarakat Lampung serta mendukung pelestarian budaya dan kearifan lokal sebagai identitas bangsa yang tidak boleh tergerus oleh perkembangan zaman.


Di tengah dinamika politik dan perubahan sosial yang terus berlangsung, prosesi adat ini menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kekuatan pemerintahan, tetapi juga oleh akar budaya yang kokoh. Ketika negara berjalan bersama adat, ketika pembangunan berdampingan dengan pelestarian tradisi, maka lahirlah harmoni yang memperkuat jati diri bangsa.


Hari itu, Lampung tidak hanya menganugerahkan sebuah gelar. Lampung menitipkan penghormatan, doa, dan sepotong sejarah kepada seorang mantan kepala negara yang dinilai telah mengabdikan dirinya bagi Indonesia. Sebab, dalam adat, setiap gelar bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah yang akan terus dikenang lintas generasi. (BHG) 

×
Berita Terbaru Update