Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Tiga Warga PALI Terjerat Loker Bodong. Asa Kandas di Lampung Disambut Uluran Tangan FH

Kamis, 09 April 2026 | April 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-09T09:46:16Z


**MESUJI** – Harapan Candra (22), Fiki (30), dan Dedi (41) untuk memperbaiki nasib seketika menguap di udara lembap Kabupaten Mesuji, Lampung. Alih-alih membawa pulang pundi-pundi rupiah untuk keluarga di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), ketiga pria ini justru terjebak dalam nestapa selama dua minggu akibat janji manis lowongan kerja bodong di media sosial.


Janji Manis di Layar Ponsel


Semua bermula dari sebuah unggahan di Facebook. Iklan tersebut menawarkan pekerjaan di perkebunan tebu dengan upah menggiurkan: Rp160.000 per hari. Bagi Candra, warga Desa Betung Barat, serta Fiki dan Dedi dari Desa Airitam, tawaran itu adalah oase di tengah sulitnya mencari penghidupan.


Pada 1 April 2026, dengan semangat membara, mereka berangkat difasilitasi oleh seseorang bernama Aan yang mengaku sebagai pihak perusahaan. Perjalanan panjang ditempuh; mulai dari jalur darat yang melelahkan hingga membelah perairan menggunakan _speedboat_ selama 1,5 jam demi mencapai lokasi kerja.


Realita Pahit: Gaji Tak Cukup Makan


Setibanya di lokasi, mimpi indah itu berganti menjadi mimpi buruk. Upah Rp160.000 yang dijanjikan ternyata hanya isapan jempol. Kenyataan pahit menghantam mereka: gaji yang diterima hanya Rp20.000 per hari.


 "Jangankan untuk menabung, untuk makan saja tidak cukup. Biaya makan di sana mencapai Rp35.000 per hari," ungkap mereka getir.


Terjepit di negeri orang, mereka tak bisa bertahan, namun tak punya daya untuk pulang. Selama dua minggu, ketiganya terlantar tanpa kepastian, bahkan harus berutang di warung makan sebesar Rp4,5 juta hanya untuk menyambung hidup.


Uluran Tangan di Tengah Keputusasaan


Dalam keputusasaan, Candra teringat satu nama: Firdaus Hasbullah (FH). Ia memberanikan diri menghubungi Wakil Ketua DPRD PALI tersebut melalui kontak yang disimpannya.


Mendengar kabar warganya terlantar, Firdaus bergerak cepat. Tanpa banyak retorika, ia menginstruksikan ketiganya untuk segera pulang dan menjamin seluruh biaya transportasi.


Masalah hutang warung yang mengganjal kepulangan mereka pun diselesaikan Firdaus seketika dengan mengirimkan dana pelunasan.


"Kami sedang di speedboat menuju pulang. Mohon doanya kak," ujar Candra dengan nada lega saat dihubungi melalui telepon.


Pesan dari Sang Penyelamat

Ditemui secara terpisah, Firdaus Hasbullah meminta agar aksi kemanusiaannya tidak dibesar-besarkan. Baginya, membantu warga yang kesulitan adalah kewajiban mutlak seorang wakil rakyat.


"Dak usah dihebohke nian dindo (Jangan terlalu dihebohkan). Biasa saja. Yang penting jangan ada lagi warga PALI yang terlantar," ujar Firdaus dengan logat lokal yang kental.


Meski demikian, Firdaus memberikan peringatan keras kepada seluruh masyarakat PALI agar lebih waspada terhadap tawaran kerja di media sosial. Ia menyarankan warga untuk selalu berkoordinasi dengan dinas terkait guna memverifikasi keabsahan perusahaan.


"Masih beruntung cuma di Lampung. Bagaimana kalau nyasarnya sampai ke Kamboja? Itu bisa lebih bahaya," tutupnya.


Kini, Candra, Fiki, dan Dedi tengah dalam perjalanan pulang. Sebuah pelajaran mahal telah mereka bawa: bahwa tidak semua yang berkilau di layar ponsel adalah emas. (ISH)

×
Berita Terbaru Update